Semangat melestarikan warisan leluhur terpancar jelas dari wajah 88 siswa MI Walisongo Pajomblangan 1 Kedungwuni saat berkunjung ke Rumah Batik TBIG. Dalam suasana yang penuh antusiasme, mereka tidak hanya datang untuk melihat, tetapi untuk merasakan langsung proses pembuatan batik .
Edukasi kali ini dirancang untuk membuka wawasan siswa bahwa batik adalah perpaduan harmonis antara seni tradisional dan kesadaran lingkungan.

Para siswa diajak menyelami proses produksi batik dari proses persiapan, pelekatan lilin, pewarnaan dan penghilangan lilin, serta dikenalkan berbagai bahan organik dari alam yang bisa diolah menjadi pewarna kain, sebuah pelajaran berharga tentang kearifan lokal.
Selain itu juga ada edukasi pengolahan limbah, Rumah Batik TBIG memberikan pemahaman penting mengenai cara mengolah sisa produksi batik agar tetap ramah bagi lingkungan, mengajarkan anak-anak untuk menjadi manusia yang bijak.
Dalam sesi workshop para siswa diajak untuk melakukan proses pembuatan batik pada kain ukuran 30x30 cm. Kegiatan yang paling dinantikan adalah saat para siswa terjun langsung ke area produksi. Dengan penuh konsentrasi, 88 siswa ini melakukan praktek:
- Membatik & Ngecap: Menggunakan canting untuk menorehkan lilin serta alat cap untuk membuat pola yang presisi di atas kain berukuran 30x30 cm.
- Pemberian Warna: Memberikan sentuhan warna-warni yang menghidupkan motif yang telah mereka buat.

Rasa bangga terpancar saat kain yang tadinya polos berubah menjadi karya seni unik. Kebahagiaan mereka pun berlipat karena hasil karya tersebut dapat dibawa pulang untuk dipamerkan kepada keluarga di rumah sebagai kenang-kenangan manis dari perjalanan edukasi ini.