Semangat melestarikan budaya tak pernah luntur. Kali ini, sebanyak 67 siswa dari MI NU Sidomulyo berkesempatan mengunjungi Rumah Batik TBIG dalam sebuah perjalanan edukasi yang penuh warna dan makna.

Kunjungan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam bahwa membatik bukan sekadar menggambar di atas kain, melainkan sebuah proses yang selaras dengan alam.
Belajar dari Alam dan Lingkungan
Dalam sesi edukasi, para siswa diajak untuk mengenal lebih dekat:
- Pewarna Alami: Mengenal bagaimana akar, kayu, dan daun bisa menghasilkan warna-warna bumi yang cantik dan ramah lingkungan.
- Pengolahan Limbah: Sebuah pelajaran penting tentang tanggung jawab, di mana siswa diajarkan bagaimana sisa produksi batik diolah agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
- Alur Pembuatan Batik: Mulai dari kain putih polos hingga menjadi kain bermotif indah melalui proses panjang yang penuh kesabaran.

Momentum yang paling ditunggu-tunggu adalah saat praktek langsung membuat batik diatas kain ukuran 30x30 cm. Dengan penuh antusias, 67 siswa ini mencoba dua teknik sekaligus mencanting cap dan membatik tulis
Setelah proses pemberian warna selesai, raut wajah bangga terpancar dari para siswa. Kain berukuran 30x30 cm hasil jerih payah mereka sendiri kini menjadi mahakarya pribadi yang boleh dibawa pulang sebagai kenang-kenangan manis dari Rumah Batik TBIG.