Suasana hangat dan penuh konsentrasi menyelimuti Rumah Batik TBIG saat menyambut kedatangan 56 siswa dari MI NU Buaran. Dengan jumlah peserta yang proporsional, setiap anak mendapatkan kesempatan emas untuk berinteraksi lebih dekat dengan dunia batik yang menjadi kebanggaan lokal.
Kunjungan edukasi ini menjadi jembatan bagi para siswa untuk memahami bahwa batik adalah perpaduan antara seni, ketelitian, dan kepedulian terhadap alam.
Para siswa MI NU Buaran diajak untuk mengenal kekayaan alam yang diolah menjadi pewarna kain, mengajarkan anak-anak bahwa alam adalah sumber inspirasi yang tak terbatas. Anak-anak juga diberikan edukasi penting mengenai cara Rumah Batik TBIG mengelola sisa produksi agar tetap aman bagi ekosistem, menanamkan jiwa eco-friendly sejak dini.
Anak-anak juga diajak untuk melihat langsung bagaimana selembar kain melewati perjalanan panjang hingga menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Satu Siswa, Satu Karya: Praktek Membatik & Ngecap

Masuk ke sesi praktek, suasana berubah menjadi ruang kreativitas tanpa batas. Di atas selembar kain ukuran 30x30 cm, 56 siswa ini mempraktekkan dua teknik utama yaitu teknik cap dan membatik tulis
Setelah melalui tahap pewarnaan yang ceria, anak-anak nampak tidak sabar melihat hasil akhirnya. Kebahagiaan mereka semakin lengkap karena karya cantik tersebut dapat dibawa pulang, menjadi bukti nyata bahwa hari ini mereka telah belajar menjadi penjaga warisan budaya bangsa.