Suasana di Rumah Batik TBIG tampak sangat hidup dengan kehadiran 98 siswa dari MIS Proto 2 Kedungwuni. Rombongan besar ini datang dengan satu semangat yang sama: mempelajari rahasia di balik indahnya sehelai kain batik langsung dari akarnya.
Kunjungan edukasi ini menjadi sarana yang luar biasa bagi anak-anak untuk memahami bahwa batik bukan sekadar motif, melainkan proses yang melibatkan kedisiplinan dan rasa cinta terhadap alam.
Petualangan Edukasi: Dari Alam Kembali ke Alam

Para siswa diajak berkeliling dan belajar tentang tiga pilar utama produksi batik di TBIG:
- Edukasi Pewarna Alami: Anak-anak belajar bahwa warna indah tidak selalu datang dari bahan kimia. Mereka mengenal berbagai tanaman yang bisa menghasilkan warna alami yang lembut dan ramah lingkungan.
- Pengolahan Limbah: Sebuah pelajaran penting tentang keberlanjutan. Siswa diajarkan bagaimana industri batik bertanggung jawab atas air sisanya, sehingga kreativitas tidak merusak alam sekitar.
- Proses Pembuatan Batik: Memahami urutan pembuatan batik dari awal hingga menjadi kain siap pakai yang bernilai tinggi.
Beraksi dengan Canting dan Cap
Puncak antusiasme meledak saat para siswa memasuki area praktek. Masing-masing anak diberikan kain berukuran 30x30 cm untuk menjadi media berekspresi. Siswa merasakan serunya teknik pengecapan dengan menempelkan motif batik yang presisi di atas kain. Selain itu siswa juga melakukan praktek membatik (Canting) dengan tujuan Melatih ketenangan tangan dalam menggoreskan lilin cair (malam) mengikuti alur pola.
Siswa yang berkunjung juga melakukan proses pewarnaan sebagai sentuhan akhir, mereka memberikan warna yang membuat hasil karyanya tampak memukau.
Senyum puas merekah di wajah 98 siswa ini karena hasil karya buatan tangan mereka sendiri dapat dibawa pulang. Kain tersebut kini menjadi bukti fisik bahwa mereka telah berhasil melewati tantangan menjadi "pengrajin sehari".