Pelaku usaha mikro batik tulis kini dituntut tidak sekadar piawai mencanting kain, tapi juga cerdas membaca arah pasar global.
Kesimpulan ini mengemuka dalam seminar nasional “Scaling Up Usaha Mikro Batik: Strategi Kolaborasi, Inovasi, dan Branding untuk Daya Saing Global” di Hotel The Sidji, Kota Pekalongan, Kamis 23 Oktober 2025.
Para pembatik diajak tidak lagi hanya berpikir tentang produksi kain, tetapi juga memahami tren desain, digitalisasi, hingga strategi menjual produk di era media sosial dan kecerdasan buatan.
“Batik adalah jati diri bangsa. Tradisi ini tidak boleh hanya bertahan, tapi juga harus bertransformasi menjawab tantangan zaman,” ujar Chief of Business Support Officer PT TBIG, Lie Si An.
Lie Si An menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama agar UMKM batik mampu bersaing di pasar global. Menurutnya, pelaku batik mikro menghadapi tantangan kompleks mulai dari keterbatasan modal, akses pasar, hingga adaptasi teknologi digital.
“Tantangan ini tak bisa dihadapi sendirian. Kolaborasi membuka cakrawala berpikir baru dan memperkuat daya saing bersama,” katanya.
Ia mencontohkan, inovasi dalam proses produksi batik bisa meningkatkan efisiensi tanpa menanggalkan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
TBIG, melalui program CSR-nya, tidak hanya menggelar pelatihan produksi dan pemasaran, tetapi juga membangun ekosistem dukungan berupa infrastruktur, distribusi, hingga bimbingan operasional.
Koperasi Bangun Bersama memainkan peran vital sebagai jembatan antara pelaku mikro dan pasar yang lebih luas.
Melalui program CSR TBIG, koperasi ini berfungsi sebagai inkubator bisnis batik berkelanjutan yang tidak hanya mencetak pembatik, tetapi juga desainer, pemasar, dan inovator di bidang fashion berbasis batik.
Sumber : https://jogja.viva.co.id/pantura-raya/4886-usaha-mikro-batik-butuh-revolusi-tbig-dorong-inovasi-kolaborasi-dan-digitalisasi-marketing